Rabu, 15 Juni 2011

Selamat Berjuang Gresia dan Tim SunSchool!


"Miss dinda sayang, doakan kita yah supaya lancar presentasinya nanti. muuah..(Gresia)
 
Sebuah pesan singkat di pagi hari yang dikirim oleh Gresia, siswa SMP Muhammadiyah 2 yang tergabung sebagai siswa Sunday School (SunSchool) di sekolahnya. Saya mengenalnya sejak pertama kali menjadi mentor di SunSchool, pada kelas Bahasa Inggris setiap Minggu pagi. Lalu menjadi semakin dekat setelah seringnya bertemu pada beberapa hari terakhir kemarin, ketika saya turut membantu menyiapkan presentasi hasil karya Gresia bersama siswa SunSchool lainnya untuk ditampilkan di Malaysia nanti. 

Gresia bersama teman satu tim (Ki-Ka: Fifi, Gresia, Tania, Fenzy)

Yah, sekolah mereka mengadakan acara pertukaran pelajar dan budaya dengan sekolah swasta Islam yang ada di negeri Jiran tersebut. Harapannya siswa-siswi SunSchool dapat saling bertukar pikiran dengan siswa yang ada di sana dan menampilkan karya serta budaya mereka. 

Hasil karya yang akan dipresentasikan di sana pun beragam jenisnya. Ada Robot Soccer, Protector House yang merupakan karya inovatif pelindung rumah dari hujan secara otomatis, Robot Spider, dan Roket. Ide karya-karya kreatif ini mereka dapatkan di kelas sains yang juga diajarkan di SunSchool

Selain itu, mereka juga akan menampilkan Tari Remo, sejarah kota Surabaya dengan segala pernak-perniknya, Pencak Silat Tapak Suci, futsal dan presentasi sekolah tentang konsep SunSchool yang berbasis semi pesantren.

Hemm, sambil membalas pesan singkat dari Gresia saya berkata dalam hati, “Saya bangga dengan kalian.” Ya, saya bangga karena mereka bisa menghasilkan karya dan menunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa. Walaupun saya bukan pengajar tetap di sana tapi saya merasa dekat dengan mereka dan saya senang bisa ikut membantu serta menyumbangkan semangat saya untuk mereka. Seperti kata Galileo Galilei, “Kita tak bisa mengajari orang apa pun; kita hanya bisa membantu mereka menemukannya di dalam diri mereka sendiri.” 

Peserta SunSchool SMP Muhammadiyah 2 Surabaya

Selamat berjuang Gresia sayang dan salam untuk teman-teman lainnya..:)

(author: dinda dinar gumilang)

Label:

Selasa, 31 Mei 2011

Selamat Ulang Tahun, Surabayaku!

Surabaya.. Oh Surabaya.. Oh Surabaya..
Disanalah..  Oh disanalah.. Di Surabaya..

Selamat ulang tahun, Surabayaku! Mudah-mudahan Surabayaku tercinta tetap terlihat 'awet muda' walaupun sudah berusia 718 tahun. Nah, supaya selalu tampak muda, Surabayaku harus rajin-rajin 'merawat diri' dengan baik yah..! Supaya banyak juga wisatawan yang tertarik dan mampir ke Surabaya.

Kalau banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang datang tentunya bisa menambah income bagi Surabayaku dong..:-) Nah, income yang masuk itu tentu bisa dimanfaatkan untuk merawat dan memperbaiki wajah Kota Surabaya. Ya, tentunya melalui pembangunan yang ramah lingkungan dan budaya. Dengan begitu, lingkungan Kota Surabaya menjadi lebih nyaman, aset budaya tetap terjaga, rakyatnya juga ikut sejahtera deh..:-) Betul ‘nggak Surabayaku?..

Arek-arek Suroboyo, bantu kota kita tercinta merawat diri yuks! Tapi, tentunya kita harus mengenal terlebih dahulu kota kita tercinta dengan segala potensi dan permasalahannya. Kita bisa memulainya dengan jalan-jalan santai, baik menggunakan sepeda onthel seperti pejuang ’45 ataupun dengan sepeda motor dan angkutan umum menelusuri seluruh sudut kota yang merupakan aset budaya Kota Surabaya. Tapi jangan sendirian gitu dong, ajak juga teman-temanmu!

Kita mulai perjalanannya yuks! Pertama-tama kita susuri sudut kota bagian Timur. Di sudut kota bagian Timur ini kita bisa menemukan Tugu Pahlawan yang masih berdiri kokoh dan gagah di tengah lapangan yang hijau. Tanaman-tanaman yang tumbuh liar di sekitar pinggiran lapangan (khusus pejalan kaki) pun nampak asri sehingga membuat orang betah untuk berteduh. Beberapa patung Pahlawan yang dulu pernah berjuang di medan perang juga masih terlihat terawat di taman. Oh iya, di area Tugu Pahlawan juga ada museumnya lho..!
Baca selengkapnya »

Label: , , ,

Senin, 23 Mei 2011

Mahasiswa UM Surabaya Ajari Bahasa Inggris Sopir Angkot

Surabaya - Belasan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya mendatangi Terminal Kedung Cowek. Kehadiran mereka bukan untuk demontrasi melainkan menggelar 'kursus jalanan' bahasa Inggris untuk sopir angkot dan Pedagang Kaki Lima (PKL) di areal Suramadu.

Aksi diawali dengan menempel stiker dan pembagian poster berisi panduan berbahasa Inggris. Panduan tersebut dikhususkan sopir angkot, khususnya lyn R1, R2 dan UBK yang berhenti di Terminal Kedung Cowek.

Selanjutnya para mahasiswa UM Surabaya memberikan bimbingan bagaimana cara pengucapan dan pelafalan yang benar atas kata-kata berbahasa Inggris, Minggu (22/11/2011).

Koordinator aksi, Dinda Dinar Gumilang menyatakan aksi tersebut merupakan wujud nyata UM Surabaya menyambut HUT ke 718 Kota Surabaya sekaligus HUT Suramadu ke 2. "Kegiatan ini kami lakukan untuk menyambut HUT kota Surabaya dan HUT Suramadu," terang Dinda.

Meski awalnya aksi itu tidak direspon para sopir angkot yang kebetulan ngetem di terminal, namun mahasiswa UM Surabaya tetap gigih mendekati para sopir angkot lain yang datang dan pergi meninggalkan terminal.

"Melalui kursus bahasa Inggris jalanan yang kami berikan semoga kelak dapat menunjang komunikasi mereka dengan wisatawan asing," harap Dinda.

Dinda dan kawan-kawannya yakin bahwa jembatan antar pulau tersebut bisa menjadi daya tarik turis Internasional. "Jembatan Suramadu sangat berpeluang menjadi aset wisata internasional dan dapat disejajarkan dengan jembatan-jembatan di dunia , kalau sudah Go Internasional semua aspek harus siap terutama SDMnya," terang Dinda.

Rencananya kegiatan tersebut akan terus dikaji dan digodok lebih matang sehingga nantinya dapat lebih Variatif, sebagai pemberdayaan masyarakat di sekitar kampus. Mengingat lokasi UM Surabaya berdekatan dengan lokasi Jembatan Suramadu, mereka merasa turut bertanggung jawab atas kemajuan masyarakat sekitar Suramadu. (detik.com lihat juga di kaskus.us)

Label:

Kamis, 09 Desember 2010

Cerita Tentang Saiful di Senin Pagi

Pagi itu, di bundaran yang letaknya tak jauh dari rumah saya, suasananya terlihat agak sepi. Mungkin karena hari itu adalah hari Senin, dimana orang memulai aktifitasnya lagi setelah libur di hari sebelumnya. Hanya ada beberapa lansia yang berolahraga dan seorang perempuan sebaya saya yang terlihat semangat menyelesaikan putaran demi putaran. Hemm, sepertinya saya kalah start dengan dia. Oke, sebelum saya mulai berlari harus melakukan pemanasan terlebih dahulu agar kaki, tangan, dan tubuh saya tidak kaku.
10 menit berlalu.. dan sepertinya kaki saya sudah tidak sabar lagi untuk melangkah. Saya mengawalinya dengan berjalan. Sesampainya di ujung separuh perjalanan saya, saya melihat seorang anak laki-laki berumur sekitar 8 tahun-an duduk di bawah pohon dengan pandangan kosong. Saya mengira dia pasti baru bangun tidur. Terlihat dari matanya yang masih bau bantal. Lalu, di sampingnya dekat dia duduk banyak kertas-kertas berserakan dan ada sebuah becak tua yang penuh dengan tumpukan kardus bekas yang sudah terpaket rapi.
Saya melihatnya lagi, masih dengan posisi yang tidak berubah. Dia tidak sedang mengamati suasana sekitar. Dia hanya melihat ke arah depan. Entah kemana dia biarkan pikirannya berjalan. Mungkin dia masih ngantuk dan ingin melanjutkan tidurnya. Atau mungkin merasa lapar. Atau dia sedang tidak membayangkan apa-apa.
Baik, saya mengalihkan perhatian. Sekelompok wanita lansia terlihat semakin semangat dengan olah raganya. Mereka hanya berempat dan salah satu sebagai instruktur. Gerakan menepuk kepala, bahu, dan pinggul disertai suara “hah” seolah membuang nafas kuat-kuat nampaknya mengundang perhatian sekitar, termasuk saya. Dan saya pun berkata dalam hati, saya harus tetap semangat berolah raga sampai seusia mereka. Seperti apa yang saya dan Mas Firman pernah bicarakan juga bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Dengan tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat, kita juga dapat secara maksimal membaktikan hidup kita pada mereka yang kita kasihi, kita sayangi..
Tak terasa saya sudah melakukan beberapa putaran dengan ritme berjalan dan berlari. Tapi saya masih penasaran dengan anak itu. Anak yang sekarang terlihat asik dengan sebuah mainan sejenis ketapel. Saya jadi ingat, itu mainan hadiah dari jajanan anak SD yang saya dulu juga sempat hobi mengumpulkannya. Dan ternyata jaman belum berubah bagi dia. Di saat anak-anak seusianya senang bermain play station, namun dia tampak cukup puas dan bahagia dengan mainannya itu.
Matahari mulai muncul dengan sinarnya yang cerah. Cukup cerah untuk pagi ini. Pohon dan rumput terlihat lebih hijau dari biasanya. Segar membasahi dengan embunnya. Sejuk pun terasa di udara. Hanya waktu, waktu yang membuat saya harus segera berganti ke aktifitas selanjutnya.
Akan tetapi, sebelum pulang saya sengaja duduk di tempat tak jauh dari anak itu bermain. Saya luruskan kaki seolah melakukan pendinginan agar dia tidak curiga mengapa saya berhenti di situ mendekatinya. Dan saya  menyapanya,
“Hei, nama kamu siapa?”
“Saiful,” jawabnya terdengar cukup tegas dan nampaknya dia anak yang pemberani dengan sorot mata yang tajam.
“Emm, semalem kamu tidur disini?”
“Enggak.”
“Dimana?”
“Di rumah.”
“Oh, rumah kamu dimana?”
“Di Setro,” kali ini jawabnya agak kurang jelas karena dia masih asik dengan mainan ketapelnya.
“Kamu gak sekolah hari ini?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Ya, gak sekolah aja,” jawabnya sambil menembakkan mainannya ke pohon, lalu ditangkapnya lagi tepat.
“Terus, sehari-hari ikut bapak bekerja?”
“Iya.”
“Gak pengen sekolah?”
“Enggak.”
 “Kenapa?”
“Gak apa-apa.”
Oke, obrolan saya dengan Saiful berhenti sampai disitu. Saya tidak ingin mengganggunya lebih lama lagi.
 --o0o--
Dalam perjalanan pulang, saya masih berusaha mencari arti jawaban-jawaban singkatnya. Mungkin Saiful sendiri tidak mengerti pasti mengapa dia tidak sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Ah, seandainya saja Saiful masih punya jawaban, "Iya, saya ingin sekolah." Kemudian ia mengutarakan keinginan-keinginan dan cita-citanya, mungkin saja akan lebih menggugah saya untuk semakin bersemangat mewujudkan sekolah gratis bagi orang-orang seperti Saiful, yang barangkali karena keterbatasan ekonomi tidak dapat menikmati bangku sekolah. Karena saya hanya ingin melihat semangat dan harapan untuk hari esok yang cerah di mata anak-anak seperti kamu, Saiful. (author: dinda dinar gumilang)

Label: ,

Sabtu, 04 Desember 2010

Hari Gini Masih Ke Perpustakaan?..

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan ditorehkan pada dokumen dengan berbagai media—dahulu tinta pada papirus, sekarang byte computer pada cakram disk. Namun, ada satu yang masih bertahan: buku. Kenapa buku? Buku menawarkan nostalgia kenyamanan yang tak tertandingi media lain. Buku membangkitkan nuansa kreativitas. Buku menawarkan cita-cita. Buku merupakan penyampai lidah pengarang yang rindu pada pembacanya.
(Komunitas Pencinta Perpustakaan)

***

***

Saya agak tergelitik juga dengan iklan Nokia Ovi Life Tools. Sebagai seorang pemerhati dunia perpustakaan, dan juga telah mengenyam pendidikan perpustakaan selama lebih kurang enam tahun, tentu saja iklan semacam itu sangat menggelitik saya.

Walaupun barangkali tidak bermaksud mengkerdilkan peran perpustakaan konvensional dalam mengembangkan pengetahuan remaja, tapi iklan itu seakan-akan 'menyentil' pustakawan yang masih saja diidentikkan hanya sebagai penjaga perpustakaan dan pengatur buku di rak-rak buku.

Sementara perkembangan teknologi kian pesat (perpustakaan--pengetahuan--dapat berada di dalam genggaman anda!), pustakawan masih saja sibuk di dalam ruang perpustakaan dengan buku-buku terserak dan peraturan yang kaku.

Saat berdiskusi dengan seorang teman, Citra Octaviana, dan juga dosen saya, Utami Hariyadi beberapa hari lalu, saya sampaikan sedikit kegelisahan saya mengenai imej perpustakaan dalam iklan tersebut.

Dengan Citra, saya lebih banyak membahas soal teori-teori komunikasi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, social media, Gen Y, globalisasi dan gurita kapitalisme yang juga mencengkeram dunia pendidikan, dan bagaimana kira-kira rencana pengembangan dunia perpustakaan di tengah-tengah itu semua.

Sedangkan bersama Utami, kami bertiga berbagi cerita tentang peran pustakawan yang sangat kurang dalam mengembangkan dunia perpustakaan. Utami bercerita bahwa ada rekannya, yang dosen Fakultas Teknik UI, justru lebih perhatian dalam mengembangkan perpustakaan, khususnya perpustakaan sekolah.

Utami menuturkan, sebenarnya sederhana saja yang dilakukan temannya itu, yaitu bagaimana merancang perpustakaan sekolah agar secara arsitektur, baik interior maupun eksterior menjadi menarik untuk dikunjungi. Itu semua dilakukannya secara cuma-cuma sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat.

Utami, yang Ketua Vokasi Ilmu Perpustakaan UI merasa sangat tergelitik juga dengan apa yang telah dilakukan oleh temannya itu. Karena, menurutnya, sebagai pustakawan justru belum banyak yang ia lakukan bagi perkembangan dunia perpustakaan.

Dalam diskusi yang berlangsung singkat di salah satu resto di bilangan Kober, Margonda Raya Depok, singkat cerita akhirnya kami sama-sama punya tekad untuk mengembangkan keilmuan yang kami geluti dengan berbagai cara kami masing-masing.

Karena mereka berdua belum pernah menyaksikan iklan yang menjadi pemicu diskusi itu, saya pun berjanji akan memperlihatkannya nanti, tak lama setelah pertemuan itu.

Seiring waktu berganti, Rabu itu saya kepikiran juga untuk melihat respon rekan-rekan seangkatan saya di Program Studi Ilmu Perpustakaan. Bagaimana pikiran-pikiran mereka dan masihkah ada antusiasme yang tinggi dari mereka terhadap dunia perpustakaan.

Saya mencoba 'menggelitik' mereka dengan iklan Nokia itu melalui milis, tentu ditambah dengan kata pengantar saya yang provokatif. Tapi, sayang hanya beberapa saja yang antusias. Itupun pikiran-pikiran yang dikemukakan pada awalnya lebih cenderung self-defense dengan tanpa solusi dan ide-ide kreatif untuk pengembangan perpustakaan selanjutnya.

Namun demikian, dari diskusi itu kami, saya dan Citra, setidaknya dapat membuat mereka lebih aware dengan dunia perpustakaan dan perkembangan lingkungan di sekitarnya. Di samping itu juga memperkaya wacana saya tentang pustakawan dan isu plagiarisme yang disampaikan Grace Wiradi. Berikut adalah petikan lengkapnya.
Baca selengkapnya »

Label:

Jumat, 12 November 2010

Mengembangkan Masyarakat Melek Media

Tulisan ini dibuat dengan maksud menjadi tinjauan kritis terhadap dampak media massa terhadap masyarakat, khususnya para remaja, serta bagaimana cara mengatasinya.
***

Saat ini, masyarakat semakin dimanjakan dengan berbagai produk media massa, mulai dari mainstream media seperti koran, majalah, televisi, dan radio, hingga kehadiran new media yaitu internet atau yang sekarang dikenal sebagai online media.
Kehadiran berbagai media massa tersebut tak lepas dari perubahan yang terjadi di tingkat global. Era globalisasi telah memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk semakin mudah mendapatkan informasi sekaligus hiburan dari berbagai tempat.
Namun demikian, yang menjadi persoalan adalah seringkali ketersediaan informasi yang melimpah tersebut tidak diikuti dengan kemampuan untuk menyaring atau memfilter. Sehingga, muncul apa yang disebut dengan ‘kekagetan budaya’ (culture shock).
Kekagetan budaya atau gegar budaya, menurut Tatang Mutaqqin (2006), terjadi karena adanya keinginan dan konsumsi berlebihan akan produk hasil kemajuan teknologi dimana kurang dipahami oleh pengguna itu sendiri.
Dalam diri masyarakat (pengguna), akses media yang sangat luas ini layaknya dua sisi mata uang. Sisi pertama, media sebagai sumber informasi, pengetahuan, dan hiburan bagi masyarakat. Di sisi lain, media massa juga membawa dampak negatif  ketika sajian-sajian mereka ternyata membawa nilai-nilai yang tidak sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat.
Misalnya saja, media audio visual yang lazim kita kenal dengan sebutan televisi. Saat ini,  televisi menyajikan bermacam  program, baik yang bersifat informatif, edukatif, hingga to entertain (menghibur). Akan tetapi, sebagian besar program siaran yang ditayangkan lebih banyak to entertain yang tidak mendidik dan jauh dari realitas sosial masyarakat kita. Sinetron misalnya, selalu mengetengahkan kemewahan yang tidak dimiliki masyarakat kebanyakan. Kehidupan yang ideal tersebut sebagian besar ditampilkan pada tayangan televisi kita setiap harinya.
Sebagai industri budaya, televisi memberikan imbas media yang besar bagi kehidupan masyarakat. Kehadirannya baik langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perilaku dan pola pikir masyarakat Indonesia dengan banyaknya tayangan televisi yang hanya memunculkan keserakahan dan kemudahan hidup, yang bukan merupakan realitas sosial masyarakat penontonnya (Wirodono, 2005).
Kelompok masyarakat yang paling besar terpengaruh adalah kaum remaja, dimana gaya hidup mewah ditandai dengan perilaku hedonis, materialistis yang dapat mendorong perilaku seenaknya dan egois pada diri remaja.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari media massa ini adalah dengan cara memberikan edukasi kepada kelompok masyarakat tersebut mengenai bagaimana mengonsumsi media secara cerdas.
Tentu ada beragam cara untuk mengurangi dampak negatif media massa. Pemerintah melalui Komisi Penyiaran Indonesia, Dewan Pers, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memberikan serangkaian regulasi berlandas semangat mengatur (to regulate) bukan mengontrol (to control) kehadiran media massa di tengah masyarakat.
Namun demikian, seringkali lembaga-lembaga tersebut dalam prakteknya menemui kendala dengan superioritas owner media massa dan juga kekuatan pengiklan. Dengan kata lain, media massa menjelma menjadi alat kapitalis dan mereka selalu berlindung di balik jargon kebebasan informasi atau the freedom of the press.
Baca selengkapnya »

Label:

Kamis, 11 November 2010

Menciptakan Suasana Kelas Yang Menyenangkan

Jum’at, 05 November 2010

I have come to  a frightening conclusion. I am the decisive element in the classroom. It is my personal approach that creates the climate. It is my daily mood that makes the weather.” (Haim Ginott)
Dan saya pun mengalaminya hari ini.
Tepat pada pukul 10.00 saya memasuki kelas. Masih tampak riuh dengan obrolan-obrolan mereka sehabis praktek di laboratorium analis kesehatan. Beberapa ada yang menjawab salam saya dan memberikan senyum manisnya.
Saya berdiri di depan di tengah kursi-kursi yang terbagi menjadi dua kubu dan menyapa mereka. Seperti biasa saya awali dengan menanyakan kabar dan berkata “I hope, all of you on a better day than yesterday. And let’s start our class!”.
Hari ini, saya ingin membuat suasana belajar lebih ceria. Lebih bersemangat. Saya tidak ingin mengajar dengan cara konvensional, kaku dan membosankan. Saya ingin memberikan materi kuliah hari ini dengan mengajak mahasiswa saya bermain kata.
Saya meminta mereka untuk membagi menjadi empat kelompok lalu saya sampaikan aturan mainnya. Sederhana saja, kata saya. Pertama, saya menuliskan satu kata di papan kemudian mereka menyusun menjadi sebuah kalimat yang panjang. Awalnya saya memilih satu orang di masing-masing kelompok untuk menjadi speaker yang akan menyampaikan kalimatnya.
Akan tetapi, cara itu sepertinya tidak efektif untuk kelas yang berjumlah kurang lebih 40 orang ini. Mereka kesulitan mentransfer kalimat kepada speakernya karena jarak tempat duduk siswa (anggota) dengan speakernya belum tentu bersebelahan atau dekat. Jadi, saya putuskan untuk tidak ada speaker. Siapa saja yang mempunyai ide kalimat panjang yang di dalamnya termasuk kata yang saya tulis di papan, maka mereka boleh langsung mengacungkan tangan dan berbicara. Baru nanti apabila bentuk kalimatnya tepat dan memenuhi syarat, mereka berhak mendapatkan poin di kelompoknya.
Suasana kelas menjadi sangat ramai dan terdengar suara bersahut-sahutan “Miss, group A”, “group B, Miss”, “group C”, “group D, Miss” sambil mengacungkan tangan mereka tinggi-tinggi. Setelah beberapa kata saya tulis di antaranya imagination, beautiful lady, university,dll. Akhirnya yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak adalah group B. Congratulation, guys!
Sambil melanjutkan pelajaran hari itu, saya berkata dalam hati bahwa memang untuk menciptakan suasana kelas yang menyenangkan harus dimulai dari diri kita sebagai pengajar yang menyenangkan juga. Dan kebahagiaan saya pun bertambah ketika melihat semangat mereka untuk bertemu dengan saya lagi pekan depan. (author: dinda dinar gumilang)

Label:

Hidup Senang dan Terhormat: Sanggar Belajar dan Anak-Anak Jalanan

Saat membuka-buka kembali buku yang tersimpan lama di lemari perpustakaan pribadi, saya temukan satu kalimat yang lumayan mengusik pikiran, “ Siapa yang tidak ingin hidup dengan senang dan terhormat?”. Pertanyaan itu mengantarkan saya untuk sedikit merenungi kembali keadaan diri dan lingkungan sekitar tempat saya “berada”.
Sebagian besar orang mungkin merasakan bahwa di tengah kehidupan kota yang makin keras ini, tiap-tiap orang merasa pemenuhan kebutuhan untuk hidup senang dan terhormat makin sulit. Paling tidak, kebutuhan hidup di kota semakin membutuhkan biaya yang tinggi. Akan tetapi, apakah hidup senang dan terhormat semata-mata dari pemenuhan materi saja?
Dalam beberapa kali kunjungan ke sanggar-sanggar belajar ataupun taman bacaan yang didirikan oleh komunitas-komunitas yang fokus pada penanganan permasalahan sosial, terutama masalah anak jalanan, saya menemukan pandangan yang lain terkait dengan hidup senang dan terhormat tadi.
Biasanya anak-anak jalanan yang berkumpul dan bergaul di sanggar-sanggar belajar terlihat cukup senang, cukup riang. Mereka juga dicontohkan untuk saling menghormati, saling menghargai, dan saling melindungi sesamanya. Melihat keadaan yang seperti itu, saya berasumsi bahwa barangkali akan mudah untuk menciptakan kondisi ideal yang akan memperkuat karakter anak jalanan untuk hidup lebih baik. Saya mencoba membuat kesimpulan awal bahwa kehidupan keras yang mereka hadapi sehari-hari membuat mereka membutuhkan semacam perlindungan, tempat bernaung, dan hiburan yang dapat meringankan beban permasalahan mereka. Mereka juga membutuhkan semacam kebutuhan untuk berafiliasi.
Keberadaan sanggar-sanggar belajar jadi semakin penting untuk pemenuhan kebutuhan non-materi (disamping pemenuhan materi) anak-anak jalanan yang semakin meningkat jumlahnya. Soal hidup senang dan terhormat, kesenangan dan kehormatan dapat mereka rasakan di antara mereka sendiri, dalam komunitas kecil mereka, dalam afiliasi di antara mereka yang difasilitasi oleh relawan sanggar-sanggar belajar. Di tempat itu, mereka bisa melupakan soal pandangan lain yang menghinakan mereka.
Kemudian, dari hal tersebut, muncul keinginan untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana anak-anak jalanan di kota tempat saya tinggal dalam memanfaatkan sanggar-sanggar belajar yang perananannya seharusnya juga bisa dilakukan oleh perpustakaan daerah. Tapi, adakah layanan bagi anak jalanan di perpustakaan daerah? Saya kira belum. Kalaupun ada, belumlah banyak jumlahnya. Padahal, sanggar-sanggar belajar dan taman bacaan yang melayani anak jalanan memiliki kesamaan fungsi dari keberadaan perpustakaan dalam menumbuhkan minat baca, transfer pengetahuan dan penyebaran informasi (fungsi pendidikan), fungsi agen perubahan sosial, dan fungsi rekreasi. Saya jadi ingin melakukan penelitian soal masalah ini.
Sekedar menggambarkan pemanfaatan sanggar-sanggar belajar oleh anak jalanan sepertinya tidak membutuhkan penelitian yang mendalam. Namun, ada hal-hal yang ingin lebih dalam lagi untuk saya ketahui. Untuk itu, saya pun mulai melakukan kontak lebih sering lagi dengan anak jalanan dan pihak sanggar belajar. Agar dapat melihat permasalahan-permasalahan lain dengan lebih mendalam. Tentunya yang terkait dengan topik awal tadi dan yang paling mungkin juga yaitu terkait pula dengan keilmuan yang saya telah pelajari, Ilmu Perpustakaan.
Dalam kontak yang lebih sering itu, saya mulai mendapati beberapa masalah yang cukup penting untuk kelangsungan sanggar belajar dan tujuan dari sanggar belajar itu sendiri. Masalah yang muncul antara lain bagaimana sebenarnya persepsi anak jalanan terhadap sanggar belajar, khususnya untuk kegiatan yang semacam layanan perpustakaan? Bagaimana pula sikap dan respon mereka atas pelayanan, atau lebih tepatnya perlakuan, relawan sanggar belajar tersebut terhadap mereka?
Pengetahuan mengenai persepsi, sikap, dan respon anak jalanan terhadap sanggar belajar tentunya sangat penting agar sanggar belajar benar-benar mengerti apa yang telah dilakukannya selama ini. Sudah sesuaikah dengan tujuan yang mereka tetapkan dari keberadaan sanggar bagi anak jalanan? Atau justru sangat jauh dari kata berhasil. Jika memang terlaksana, hasil penelitian ini tentunya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak sanggar belajar dalam menjalankan kegiatannya ke depan. Terlebih terhadap pelayanan atau perlakuan yang mereka berikan terhadap anak jalanan. Sebagian kecil manusia yang juga ingin hidup dengan senang dan terhormat. (author: saca firmansyah)

Label:

Selasa, 09 November 2010

Emang belajar kudu di sekolah ya, Bang?

Seorang anak jalanan, atau lebih tepatnya pedagang asongan usia kanak-kanak, ditanya oleh seorang teman mahasiswa tentang pendidikannya, atau lebih tepatnya soal mengapa ia tidak sekolah hari itu.
“Prul, kenape lo kagak sekolah?” tanya mahasiswa.
“Kenape gue harus sekolah Bang?” jawab sang anak.
“Ya belajar, Prul.. Masa di sekolah lo ngebersihin comberan yang pada mampet,” kata mahasiswa.
“Emang belajar kudu di sekolah ya Bang?” tanya sang anak.
“Ya kagak juga sih, tapi kan dengan sekolah lo bakalan dapet banyak pengetahuan di sana, pendidikan yang lebih baik buat masa depan lo..” jawab mahasiswa untuk meyakinkan anak itu agar mau bersekolah.
“Pendidikan? Jaminan masa depan? Apa kite kayak kagak lagi berjudi dengan itu semua Bang?" sang anak kembali bertanya. Mahasiswa itu terdiam. Sang anak pun melanjutkan lagi keragu-raguannya soal pentingnya bersekolah.
"Seiring perjalanan waktu kita juga bakalan dapet pengetahuan yang memang harus kita tahu bukan? Emak gue selalu bilang oleh banyak orang pengetahuan yang kita dapet itu disebut pengalaman. Nah, kata Bapak gue oleh banyak orang pengalaman dianggap sebagai guru terbaik."
Mahasiswa itu benar-benar terdiam. Dalam pikirannya, pengalaman memang guru terbaik. Tapi bukankah kita bisa dapatkan pengalaman dari banyak orang dengan belajar dari banyak buku tentang pengalaman-pengalaman, eksperimen-eksperimen banyak orang yang berhasil maupun yang gagal dalam mengungkapkan masalah, menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Mahasiswa itu tak ingin mengungkapkan pikirannya pada anak itu. Ia ingin lebih banyak mendengar saat itu. Sang anak pun melanjutkan penjelasannya.
"Abang lebih percaya mana, Sekolahan atau Tuhan yang mengajarkan kita lewat pengalaman-pengalaman di jalan kehidupan yang kita pilih? Gue lebih percaya masa depan dan rejeki itu di tangan Tuhan, Bang... Bukan di Sekolahan. Dan gue kagak suka ngebuang-buang waktu di bangku sekolahan. Apalagi sampai terlibat tawuran, seks bebas, dan narkoba. Yang semuanya itu lebih banyak dilakukan oleh anak-anak sekolahan. Gue yakin dengan masa depan gue yang lebih baik esok, walaupun tanpa perlu duduk di bangku sekolahan. Bagaimana dengan Abang?”
Mahasiswa itu lagi-lagi hanya ingin diam dan mendengarkan. Dia begitu mengagumi gaya sang anak dalam mempertanyakan sebuah bangunan kemapanan berpikirnya. Bisa saja ada perdebatan. Tapi siapa dia? Siapa Dia?
Hari semakin panas. Akhirnya anak itu mesti terus berjalan, menjajakan dagangannya. Mahasiswa itu juga melanjutkan perjalanannya. Waktu memang benar-benar berjalan. Mahasiswa itu mendapatkan pengalamannya hari ini, bahwa manusia yang unik dan dinamis itu tidak mungkin dapat dikotak-kotakan dalam satu sistem berpikir yang mapan. Karena, barangkali dan jika manusia terjebak dalam satu kotak kemapanan berpikir barangkali hanya akan ada stagnasi di dalamnya. Maka cara berpikir kita tentang apa yang logis dan tidak logis pun bukan sesuatu yang dengan sendirinya benar, karena bahkan logika pun sebenarnya dipengaruhi oleh apa yang kita pelajari. Salah satunya oleh 'rezim' pendidikan formal yang 'menjajah' kita selama ini, barangkali. (author: saca firmansyah)

Label: ,

Minggu, 07 November 2010

LATIHAN: Menyekolahkan Kembali Masyarakat?*

Oleh: Russ Dilts

“Anda melatih binatang, Anda mendidik manusia!”
Begitu ucap pepatah lama. Tetapi, binatang tidak biasa mengikuti lokakarya atau penataran, sementara kita sibuk dalam banyak kegiatan yang umumnya disebut sebagai kegiatan latihan (training). Bagi kaum awam, arti kata latihan biasanya diartikan sebagai kegiatan latihan berolah raga atau kegiatan fisik lainnya. Bagi kaum terpelajar, terutama yang berkecimpung dalam kegiatan pengembangan masyarakat, kegiatan latihan diartikan sebagai suatu inti proses pengembangan sumber daya manusia. Bagi kalangan lainnya lagi, perbedaan pengertian antara latihan dengan pendidikan sering dikaburkan, atau malah digabungkan saja menjadi “pendidikan dan latihan” (diklat). Secara umum, latihan lebih diartikan sebagai suatu kegiatan yang menunjang berbagai fungsi atau peranan tertentu dalam masyarakat, seperti para perwira yang menerima latihan militer, atau para pegawai yang disuruh mengikuti “latihan jabatan” (on the job training).

DIMANA-MANA LATIHAN
Setiap orang dalam hidupnya pernah melatih atau dilatih. Bayi-bayi (orang Barat) dilatih “ber-WC” (toilet training), biarawan Budha melakukan latihan spiritual, para pejabat memberi dan menerima latihan kepemimpinan, para petugas lapangan mengikuti latihan penyuluhan, dan sebagainya.
Latihan merupakan suatu usaha yang besar dan luas, karena itu perlu mendapatkan perhatian kita. Sementara di Indonesia kini terdapat lebih dari sejuta pelajar beramai-ramai berebut tempat masuk ke berbagai perguruan tinggi, sementara itu pula akan terdapat lebih banyak lagi orang dewasa yang akan mengikuti berbagai jenis latihan. Di pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan, latihan-latihan pra-jabatan, manajemen, penyegaran tugas-tugas, dan latihan jabatan, masih terus berlangsung. Pada lembaga-lembaga pembangunan dan pemerintahan, komponen latihan selalu masuk dalam setiap proyek yang diusulkan. Lembaga swasta menawarkan banyak latihan khusus, sementara kantor-kantor dan birokrasi menyelenggarakan latihan “peningkatan” (up-grading), serta media massa melaksanakan latihan jarak jauh. Kita semua pun terjangkau oleh kegiatan latihan: orang-orang yang “putus sekolah” memperoleh latihan ketrampilan; para calon transmigran mendapatkan latihan pertanian; para ibu rumah tangga memperoleh latihan jahit-menjahit dan cara merawat bayi; para petani terlantar memperoleh latihan pemasaran; para pemuka masyarakat menerima latihan kepemimpinan; para bekas narapidana mengikuti latihan penyesuaian diri kembali ke masyarakat; kader-kader desa dilatih teknik-teknik pengembangan masyarakat; dan, last but no least, para pelatih atau pemandu latihan sekalipun masih tetap mengikuti “latihan untuk pelatih”. Demikian seterusnya.

MENGATASI PERUBAHAN
Kita akan terus mengahadapi perubahan. Dan, perubahan itu akan menuntut pula perubahan diri kita sendiri. Jadi, perubahan-perubahan yang terjadi pada masa kini dan masa mendatang akan menjadikan kita sebagai peserta latihan seumur hidup. Kita harus berubah dan berubah untuk mengatasi perubahan. Dengan demikian, perubahan (change) tersebut merupakan alasan dan sekaligus tujuan dari semua kegiatan latihan.
Dulu, generasi muda dididik dan dilatih oleh orang tua mereka atau oleh mesyarakat di tempat lain. Dengan cara ini, mereka dibekali pengetahuan dan ketrampilan agar mereka dapat mengisi peran tertentu dalam masyarakat yang biasanya merupakan warisan dari generasi sebelumnya. Sampai sekarang pun, masih banyak nama orang keturunan Inggris, yang mencerminkan warisan pekerjaan atau peranan yang dilakukan oleh orang tua dan kakek-kakek mereka, misalnya Taylor (penjahit), Smith (pandai besi), Cooper (pembuat drum), Weaver (penenun), Cook (tukang masak) Baker (tukang kue), dan sebagainya. Jika tak ada guncangan besar seperti perang atau bencana alam, proses pewarisan peranan tersebut dapat berjalan ajeg dari generasi ke generasi berikutnya.
Lalu, tibalah masa revolusi industri dimana para petani dan pengrajin dihadapkan pada suatu perubahan besar dalam pola hidup mereka yang semula. Dahulu, para petani bekerja menurut musim dan keadaan sekitarnya. Sekarang, revolusi industri telah merubah mereka menjadi buruh-buruh pabrik dengan pola kerja yang didasarkan atas perintah para mandor dan tuntutan produksi demi memenuhi kebutuhan pasaran bebas. Bukan hal kebetulan kalau pendidikan massal mulai dilaksanakan bersamaan dengan kemunculan lokasi-lokasi pabrik yang membutuhkan tenaga kerja trampil dan terlatih, yang dapat duduk diam selama sekian jam sehari di depan mesin-mesin, demi mendapatkan nafkah hidup sehari-hari.
Sistem lembaga pendidikan formal (sekolah) tak berdaya mengikuti arus perubahan ini, dan pada gilirannya bentuk pendidikan massal yang lebih terkhususkan (specialized) tumbuh menjamur, dalam bentuk latihan-latihan atau kursus-kursus. Manfaat, keluasan serta kehadiran latihan sebagai suatu mekanisme sosial, paling sedikit menuntut upaya kita untuk menguji dan membuat semacam gambaran perkembangannya sampai saat ini.
Baca selengkapnya »

Label:

Jumat, 05 November 2010

Penyadaran dan Pembebasan: Perkenalan Singkat dengan Filsafat Pendidikan Paulo Freire

Ahli-ahli ilmu sosial, terutama pada pendidik, akhir-akhir ini banyak mengutip dan mengkaji buah pikiran dan hasil karya Paulo Freire. Dua buah bukunya, yakni Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of Opressed, Penguin Books, 1978; edisi Indonesia diterbitkan oleh LP3ES, 1985), dan Gerakan Kebudayaan untuk Kemerdekaan (Cultural Action for Freedom, Penguin Books, 1977), adalah dua buah karya Freire yang paling sering dikutip sehingga telah menjadi bacaan klasik dalam kepustakaan ilmu sosial saat ini. Kedua buku tersebut menjadi bahan dasar makalah singkat ini.
Kekuatan yang menjadi daya tarik utama Freire adalah kejujurannya untuk menyatakan, tanpa tedeng aling-aling, kondisi kemanusiaan kita saat ini yang telah sedemikian rupa rapuhnya dimana kita sendiri justru sering bersikap tidak manusiawi menghadapinya. Sama seperti rekan-rekannya para pemikir pembaharu Amerika Latin, Freire telah lahir dan tampil dengan suara lantang menyatakan sikapnya terhadap kenyataan sosial yang ada, dan gaya seperti itu umumnya memang selalu menarik.
Tetapi kekuatan Freire yang sesungguhnya terletak pada kekuatan pemikiran yang menukik langsung pada pokok-pokok persoalan dengan bahasa pengucapan yang sederhana, sehingga para pemerhati filsafat tingkat pemula atau orang awam sekalipun akan cukup mudah untuk memahaminya. Freire mempu menjabarkan pemikiran-pemikiran filsafat yang bertakik-takik (sophisticated) ke dalam aktualisasi masalah-masalah kehidupan keseharian serta tuntutan-tuntutan praktis abad mutakhir saat ini, terutama dalam bidang pendidikan dalam kaitannya dengan seluruh ikhtiar pembangunan nasional yang menjadi “cultural focus” dunia kita saat ini. Berbeda dengan banyak pendahulunya, Freire tidak berhenti dan selesai pada besaran-besaran pemikiran dan perdebatan terminologis yang tidak perlu, tetapi langsung menerapkan dan melakukan gagasannya sendiri dalam suatu rangkaian program aksi yang cukup luas, terutama di Chili dan di negara kelahirannya sendiri di Brazilia. Inilah kekuatan Freire, yang pada tingkat tertentu mungkin saja menjadi kelemahannya sekaligus.

MANUSIA DAN DUNIA: PUSAT MASALAH
Filsafat Freire bertolak dari kenyataan bahwa di dunia ini ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain, justru dengan cara-cara yang tidak adil. Dalam kenyataannya, kelompok manusia yang pertama adalah bagian mayoritas umat manusia, sementara kelompok yang kedua adalah bagian minoritas umat manusia. Dari segi jumlah ini saja keadaan tersebut sudah memperlihatkan adanya kondisi yang tidak berimbang, yang tidak adil. Inilah yang disebut oleh Freire sebagai ”situasi penindasan”.
Bagi Freire, penindasan, apapun namanya dan apapun alasannya, adalah tidak manusiawi, sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi). Dehumanisasi ini bersifat mendua, dalam pengertian terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas. Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tidak berdaya dan dibenamkan dalam “kebudayaan bisu” (submerged in The Culture of Silence).1 Adapun minoritas kaum penindas menjadi tidak manusiawi karena telah mendustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi manusia sesamanya.
Karena itu tidak ada pilihan lain, ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi) adalah pilihan mutlak. Humanisasi adalah satu-satunya pilihan bagi kemanusiaan, karena walaupun dehumanisasi adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan ontologis di masa mendatang, namun ia bukanlah suatu keharusan sejarah. Secara dialektis, suatu kenyataan tidaklah mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menjadi suatu keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk mengubahnya agar sesuai dengan apa yang seharusnya. Inilah fitrah manusia sejati (the man’s ontological vocation).
Bagi Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas atau yang mungkin menindasnya. Dunia dan realitas atau realitas dunia ini bukan “sesuatu yang ada dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya” sebagai suatu takdir atau semacam nasib yang tak terelakkan, semacam mitos. Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya-cipta, dan hal itu berarti atau mengandaikan perlunya sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (thought of language), yakni bahwa pada hakekatnya manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya yang dengan bekal pikiran dan tindakan “praxis”2-nya ia merubah dunia dan realitas. Karena itulah manusia berbeda dengan binatang yang hanya digerakkan oleh naluri. Manusia juga memiliki naluri, tapi juga memiliki kesadaran (consciousness). Manusia memiliki kepribadian, eksistensi. Ini tidak berarti manusia tidak memiliki keterbatasan, tetapi dengan fitrah kemanusiaannya seseorang harus mampu mengatasi situasi-situasi batas (limit-situations) yang mengekangnya. Jika seseorang yang menyerah pasrah pada situasi batas itu, apalagi tanpa ikhtiar dan kesadaran sama sekali, maka sesungguhnya ia tidak manusiawi lagi. Seseorang yang manusiawi harus menjadi pencipta (the creator) sejarahnya sendiri. Dan, karena seseorang hidup di dunia dengan orang-orang lain sebagai umat manusia, maka kenyataan “ada bersama” (being together) itu harus dijalani dalam proses “menjadi” (becoming) yang tak pernah selesai. Ini bukan sekedar adaptasi, tapi integrasi untuk menjadi manusia seutuhnya.
Manusia adalah penguasa atas dirinya, menjadi bebas. Ini adalah tujuan akhir dari upaya humanisasinya Freire. Humanisasi, karenanya adalah juga berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi-situasi batas yang menindas di luar kehendaknya. Kaum tertindas harus memerdekakan dan membebaskan diri mereka sendiri dari penindasan yang tidak manusiawi sekaligus membebaskan kaum penindas mereka dari penjara hati nurani yang tidak jujur melakukan penindasan. Jika masih ada perkecualian, maka kemerdekaan dan kebebasan sejati tidak akan pernah tercapai secara penuh dan bermakna.
Baca selengkapnya »

Label:

Rabu, 03 November 2010

Andragogi: Sebuah Konsep Teoritik*

Kita hidup dalam suatu abad yang penuh dengan perubahan-perubahan cepat, suatu abad penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, teori-teori dan metoda serta permasalahan baru dan pemecahannya. Alvin Toffler telah memperingatkan kita bahwa peningkatan dan kemajemukan kehidupan abad kita ini telah pula meningkatkan dan menghasilkan banyak kegoncangan budaya dan pemilikan yang luar biasa. Oleh karena itu, kita harus menemukan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan kita dalam memilih secara cepat dan tepat yang benar-benar menjadi keinginan dan kebutuhan kita. Kita harus belajar bagaimana membuat berbagai keputusan dan melaksanakannya, dalam kaitannya dengan orang-orang lain yang dipengaruhi oleh keputusan itu. Keadaan ini telah melahirkan pertanyaan akan tujuan pendidikan dalam rangka pengembangan sumberdaya manusiawi kita.

PERUBAHAN TUJUAN PENDIDIKAN
Umumnya teori pendidikan didasarkan pada anggapan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mengalihkan keseluruhan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Asumsi ini menyiratkan dua hal, yakni: (1) bahwa jumlah pengetahuan cukup sedikit untuk dikelola secara menyeluruh oleh sistem pendidikan; dan (2) bahwa kecepatan perubahan yang terjadi dalam tata-budaya atau masyarakat cukup lamban sehingga memungkinkan untuk menyimpan pengetahuan dalam kemasan tertentu serta menyampaikannya sebelum pengetahuan itu sendiri berubah. Kedua keadaan tersebut sudah tak berlaku lagi di abad modern saat ini. Sekarang kita hidup dalam jaman peledakan pengetahuan yang menimbulkan perubahan-perubahan sedemikian cepat. Kecepatan dan banyaknya perubahan dalam masyarakat tersebut telah menimbulkan pertanyaan yang meragukan “teori pengalihan pengetahuan” melalui pendidikan.
Daripada sekedar mengalihkan semua yang kita ketahui, maka barangkali tujuan kita yang sesungguhnya adalah menumbuhkan dorongan dalam diri peserta didik keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui.
Jika rumusan terakhir ini disetujui, maka ada dua konsekuensi yang akan menyertainya. Pertama, pendidikan tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yang terutama diperuntukkan bagi kanak-kanak. Kedua, tanggung jawab untuk menetapkan apa yang harus diajarkan dan yang akan dipelajari beralih dari tangan guru ke tangan murid. Pendidikan, sebagai suatu proses seumur hidup, dengan demikian akan mampu memenuhi kebutuhan kita dan pengalaman kita yang juga terus berubah.
Pertimbangan lain yang mempengaruhi pendapat bahwa pendidikan adalah kegiatan yang berkelanjutan terus sesudah masa kanak-kanak, adalah: 

a. Bahwa hidup itu sendiri adalah pengalaman pendidikan.
    Confusius pernah menekankan pentingnya arti belajar dari pengalaman ketika ia menyatakan:

    “saya dengar dan saya lupa”

    “saya lihat dan saya ingat”

    “saya lakukan dan saya paham”
    Pernyataan ini berarti bahwa pemahaman dan pengetahuan secara langsung memang berkaitan dengan kehidupan dan pengalaman keseharian. Pendidikan sebagai suatu proses seumur hidup dengan demikian berlangsung sepanjang kegiatan manusia yang dilakukan secara sadar. Proses itu tidak selesai setelah tamat sekolah. Setiap yang kita lakukan selalu mengandung unsur belajar. Apa yang kita pikirkan dan lakukan di masa lalu dan apa yang kita lakukan pada saat ini serta apa yang kita rencanakan untuk masa mendatang, semuanya menunjukkan proses belajar dengan cara melakukannya sekaligus. Mungkin saja kita tidak melihat hal itu sebagai “pengalaman belajar” atau sebagai suatu situasi belajar, justru karena pemahaman kita telah dibatasi oleh pandangan yang sempit bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Dalam kenyataannya, kita sesunngguhnya belajar setiap saat. Oleh karena itu apa yang kita butuhkan adalah suatu proses pendidikan yang dapat membantu kita menghasilkan pengetahuan dari situasi kehidupan yang kita alami dalam kegiatan sehari-hari. Belajar dari pengalaman kehidupan, karenanya, merupakan sesuatu yang sangat penting bagi orang dewasa pada saat ini. 
    Baca selengkapnya »

    Label:

    Senin, 01 November 2010

    Pentingnya Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Perpustakaan

    Pada beberapa perjalanan yang penulis lakukan di beberapa daerah di Indonesia, terutama sejak akhir 2004 hingga akhir 2008, telah banyak usaha-usaha dari berbagai pihak dalam mengupayakan pembangunan perpustakaan dengan tujuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat. Di Aceh pasca tsunami, pembangunan perpustakaan di daerah yang dekat dengan pemukiman korban bencana tsunami marak didirikan. Baik oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bekerjasama dengan perusahaan, departemen atau lembaga pendidikan dan ilmiah, organisasi kemahasiswaan dalam program pengembangan masyarakat dan kuliah kerja nyata (KKN), maupun oleh pemerintah daerah dan pusat. Di daerah lainnya, seperti di Bandung, Serang, dan Yogyakarta pembangunan perpustakaan juga marak dilakukan mulai dari pemukiman padat penduduk di daerah perkotaan hingga di daerah pedesaan. Di Jakarta dan Jawa Barat, pengembangan perpustakaan di daerah pemukiman yang jauh dari perpustakaan umum didukung oleh Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda). Namun demikian, tidak semua wilayah dapat dijamah oleh Perpumda. Partisipasi masyarakat tetap diperlukan untuk pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan.
    Dalam pembahasan mengenai perpustakaan umum, Sulistyo Basuki (1994: 35-44) menjabarkan bahwa sejak tahun 1950-an pembangunan perpustakaan di Indonesia telah marak didirikan, termasuk perpustakaan di desa-desa. Akan tetapi, hasilnya “seperti yang dirasakan dan dilihat dalam masyarakat sekali lagi membuktikan bahwa perpustakaan desa belum berfungsi secara maksimal” (Sutarno NS, 2008: 132). Dari beberapa perpustakaan yang dibangun ada yang kemudian redup penyelenggaraannya dan bahkan mati. Soal hambatan dalam perkembangan perpustakaan, Blasius Sudarsono ( 2006: 8 ) menyatakan:
    "Alasan klasik antara lain disebut bahwa membaca belum membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Apresiasi masyarakat akan bahan bacaan masih perlu ditingkatkan, apalagi dengan semakin mahalnya buku bagi sebagian besar masyarakat. Selain faktor dana dan tenaga, pemahaman yang benar akan pentingnya lembaga perpustakaan bagi masyarakat, juga menjadi sebab belum berhasilnya usaha pembangunan perpustakaan. Mungkin justru alasan terakhir inilah yang menjadi sebab utama dan pertama kelambatan perpustakaan mewujud sebagai lembaga yang benar-benar diperlukan keberadaannya bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia."
    Pemahaman masyarakat akan pentingnya lembaga perpustakaan sebagai lembaga pelayanan masyarakat dapat tercipta dengan baik melalui partisipasi kelompok masyarakat dalam proses pembangunan perpustakaan. Partisipasi kelompok masyarakat menjadi penting terkait dengan orientasi dari keberadaan perpustakaan dalam pelayanannya terhadap kebutuhan masyarakat pengguna.
    Baca selengkapnya »

    Label: