Hujan Di Halte Jalan Itu
Hari biasa berkata bahwa setiap kali hujan turun, setiap kali itu pula ia dapat melihat wajah-wajah yang kecewa. Tapi, tidak sedikit juga ia lihat wajah-wajah yang tersenyum bahagia. Tersenyum bahagia? Entahlah, tersenyum bahagia atau tersenyum sinis atas kehadiran makhluk bernama hujan yang tak pernah diundangnya. Tapi, bukankah senyum lebih banyak berarti senang dan bahagia? Ah, entahlah. Kalau kalian sempat mampir di halte jalan itu ketika hujan turun, kalian pasti akan melihat bagaimana ragam wajah-wajah itu semua. Atau, jangan-jangan wajah kalian-lah yang diperhatikan Hari selama ini. Wajah yang kecewa di saat hujan turun, wajah yang bahagia di saat air membasahi pohon-pohon akasia dan menggenangi aspal yang makin hitam setelah dipanggang matahari siang tadi.
ORANG-ORANG yang lewat jalan itu memang orang-orang yang sibuk. Setiap orang memiliki rutinitas yang padat. Setiap hari-hari mereka selalu penuh dengan jadwal pertemuan dengan rekan bisnisnya. Karena waktu adalah uang, maka tidak boleh ada waktu yang terlewati dengan sia-sia. Apalagi hanya sekedar menunggu hujan reda sambil menikmati kopi hangat yang dijajakan Hari dengan sepeda onthel-nya yang khas.
Kalian tidak akan mendapati orang-orang di sana dalam keadaan diam. Semua serba bergerak cepat, bergerak dinamis. Dinamis? Tunggu, bukankah banyak yang bergerak cepat untuk rutinitas yang sama? Dan bukankah setiap gerak dengan rutinitas yang sama lebih tepat dikatakan sebagai gerak statis? Semua bergerak cepat, tapi statis? Bukankah begitu?
Ah, lagi-lagi entahlah. Yang jelas, jika kalian mampir di halte jalan itu tidak akan kalian dapati orang-orang dalam keadaan diam. Kalaupun diam, kalian akan lihat mereka khusyuk membaca buku-buku motivasinya, atau entah mengerjakan apa dengan laptop mini-nya, barangkali juga sibuk dengan henpon atau blackberry-nya.
Untuk yang terakhir itu, kalau tidak untuk kepentingan bisnis, ya sekedar untuk update status, berbagi cerita tentang rutinitas dan menuangkan segala keluh kesah di situs jejaring sosialnya. Sesibuk dan sekuat apapun manusia itu, bukankah perlu juga waktu untuk berbagi cerita? Jika dapat, juga berkeluh kesah?
“Lebih bijaksana menjaga kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada memupuk uang,” tulis seseorang dalam status fesbuknya, mengutip salah satu kalimat dalam buku yang dibacanya sambil menunggu hujan reda di halte itu.
Entah–lagi-lagi entah—apakah orang itu benar-benar memahami makna dari kata-kata yang dituliskannya atau tidak. Kalau kalian coba mengunjungi dinding fesbuknya, banyak sekali kutipan kata-kata bijak dari tokoh-tokoh terkenal sepanjang abad peradaban manusia.
Di halte jalan itu, Hari masih terus memandangi wajah-wajah yang sedikit basah oleh tetesan hujan. Tak lupa ia berikan senyum pada mereka yang tak sengaja bertemu muka, bertatap mata. Tapi, senyum tak selalu berbalas senyum. Salam pun bisa jadi tak terbalas. Kalau kalian berikan senyum, bisa jadi mereka malah menunduk, memandangi layar henpon atau blackberry-nya. Entah tombol-tombol apa saja yang mereka pijit dengan kedua jempolnya. Mungkin saja mereka memijit tombol titik dua lalu kurung tutup--:)--untuk membalas senyum Hari yang ramah itu. Siapa tahu?
“Haaahhhhh….. Ujan lagi, macet lagi… beteee…..!!!!” Seorang lainnya mengeluh dalam fesbuknya. Tapi tidak ada satu orang pun di sekitarnya yang tahu kalau ia sudah sebegitu beteeenya dengan keadaan itu. Yang jelas terlihat, wajahnya memang selalu tunduk memandangi layar henpon made in China yang di dalamnya terdapat fasilitas untuk fesbukan dan chatting.
“Halah, pake ujan lagi… batal deh ketemuan…..”
“Menunggu hujan reda, menikmati segelas kopi hangat…..”
“Ya Tuhan, cepat reda dong ujannya…..”
“Hujan=Banjir dan macet. Gimana nih kinerja yang ngaku ahlinya???” Tulis seorang yang lainnya, kali ini tidak di fesbuk, tapi di twitter.
Baca selengkapnya »Label: cerita pendek

